KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

A. Konsep Pendidikan Multikultural

Konsep pendidikan multikultural di Negara-negara yang menganut konsep demokratis seperti Amerika serikat dan kanada, bukan hal yang baru lagi. Mereka telah melaksanakannya khususnya dalam upaya melenyapkan diskriminasi rasial antara orang kulit putih dan kulit hitam, yang bertujuan memajukan dan memelihara integritas nasional.

Pendidikan multicultural mengakui adanya keragaman etnik dan budaya dari masyarakat suatu bangsa, sebagaimana dikatakan R. stavenragen:

Religious, linguistic, and national minoritas, as well as indigenous and tribal peoples were often subordinated, sometimes forcefully and against their will, to the interest of the state and the dominandt society. While many people…had to discard their own cultures, langues, religions and traditions, and adapt to the alien norms and customs that were consolidated and reproduced through national institutions, incluiding the educational and legal system. (Rudalfo Stavenhagen, 1996: 15)

Di Negara adi kuasa-Amerika serikat sebagai contohnya muncul serangkaian konsep system tentang prulalitas yang berbeda-beda mulai dari melting post sampai multikulturalisme. Sejak colombus menemukan benua amerika, berbagai macam bangsa telah menempati benua itu. Penduduk yang sudah berada di sana sebelum bangsa-bangsa eropa membentuk koloni-koloni mereka di amerika utara, terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda-beda bahasa dan budayanya. Tetapi dimata bangsa anglo-sakson yang menyebarkan koloni di abad ke-17 tanah di Negara baru itu ada kawasan yang tidak bertuan dan bangsa-bangsa yang ditemui di benua baru itu tak lebih dari makhluk primitive yang merupakan bagian dari alam yang mesti ditaklukkan. Dari perspektif kaum puritan yang menjadi acuan utama sebagian besar pendatang dari inggris tersebut berbagai suku bangsa yang dilabel secara generic dengan nama “India” adalah salah satu bangsa kafir pemuja dewa yang membahayakan kehidupan komunitas berbasis agama tersebut. Di sisi terlihat bagaimana pandangan perspektif tunggal yang dating dari budaya tertentu membuatkan mata terhadap kenyataan keragaman yang ada.

Amerika serikat ketika ingin membentuk masyarakat baru-pasca kemerdekaan (4 juli 1776) baru disdari bahwa masyarakat terdiri dari berbagai ras dan asal Negara yang berbeda. Oleh karena itu, dalam hal ini amerika mencoba mencari terobosan baru yaitu dengan menempuh strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai baru yang di cita-citakan

Multikulturalisme secara etimologis marak digunakan pada tahun 1950-an. Pendidikan multicultural bisa di definisikan sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan cultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Hal ini seiring dengan pendapat Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang beruaha menjauhi realitas social dan budaya. Pendidikan menurutnya harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berprndidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestos social sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya.

Pendidikan multicultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multicultural merupakan pengembang kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi, dan perhatian terhadap terhadap orang-orang non eropa (Hilliard, 1991-1992).

Sedangkan secara luas pendidikan multicultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata social, dan agama.

Berbicara masalah konsep pendidikan multikulturalisme, James Bank (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multicultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Content integrations in instructional. adalah mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu
  2. The Knowladge Construction Process in instructiona, adalah membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin)
  3. An Equity Paedagogy in instructional. Adalah menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam, baik dari segi ras, budaya, maupun social
  4. Trainning participation in instructional. Adalah melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, berinteraksi dengan seluruh staf dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam rangka upaya menciptakan budaya akademik.
  5. Prejudice Reduction in instructional adalah mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menemtukan metode pengajaran mereka

Dalam aktifitas pendidikan manapun, peserta didik merupakan sasaran (obyek) dan sekaligus sebagai subyek pendidikan. Oleh sebab itu, dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik dapat dilihat dari empat cirri sebagai berikut:

  1. Peserta didik dalam keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuannya, kemauannya, dan sebgainya
  2. Peserta didik memiliki keinginan untuk berkembang ke arah dewasa
  3. Peserta didik memiliki latar belakang budaya, etnis, agama yang berbeda
  4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimilikinya secara individu

Dalam perspektif tilaar, pendidikan multicultural berawal dari berkembangnya gagasan tentang “interkultualisme” sesuai perang dunia ke II. Kemunculan gagasan dan kesadaran “interkultualisme” ini selain terkait dengan perkembangan politik internasional menyangkut HAM, kemerdekaan dari kolonialisme, dan diskriminasi rasial dan lain-lain. Juga karena meningkatnya pluralitas di Negara-negara barat sendiri sebagai akibat dari peningkatan migrasi dari Negaranegara baru merdeka ke amerika dan eropa (Tilaar, 2004: 23).

Dalam konsep pendidikan multicultural focus dari pendidikan multicultural tidak lagi diarahkan semata-mata pada kelompok rasial, agama, dan cultural domain atau mainstream. Focus demikian ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan intercultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan multicultural sebenarnya merupakan sikap “peduli” dan mau mengerti (difference) atau “politic of recognition)” politik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok miniritas.

Dalam konteks tersebut, pendidikan multicultural melihat masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap “indiferenc” dan “non-recognition” tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigma pendidikan multicultural mencakup subyek-subyek menganai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang: social, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

Paradigma seperti ini akan mendorong tumbuhnya kajian-kajian tentang “etnic studies” untuk kemudian menemukan tempatnya dalam kurikulum pendidikan sejak dari tingakat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuan inti dari pembahasan tentang subjek ini adalah untuk mencapai pemberdayaan (empowerment) bagi kelompok-kelompok minoritas dan disadvantaged.

Dalam konsep pendidikan, istilah pendidikan multicultural dapat digunakan baik pada tingkat deskriftif dan normative, yang menggambarkan isu-isu dan maslah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat multicultural. Lebih jauh ia juga mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat multicultural yang jelas mencakup subjek-subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik, demokratis dan pluralitas, kemanusiaan universal dan lain sebagainya

Dalam konteks teoritis, belajar dari model-model pendidikan multicultural yang pernah ada dan sedang dikembangkan oleh Negara-negara maju, dikenal lima pendekatan: pertama; pendidikan menganai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau multikulturalisme. Kedua; pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau pemahaman budaya, ketiga; pendidikan bagi pluralisme kebudayaan, keempat; pendidikan dwi budaya. Dan kelima; pendidikan multicultural sebagai pengalaman moral manusia.

Bagian penting dari pada pendidikan multicultural adalah bagaimana menumbuhkan sensivitas siwa akan kebudayaan budaya masyarakat yang bersifat plural. Hal itu sesuai dan sejalan dengan pendapat Bennet (1986) yang menyatakan bahwa asumsi dasar pendidikan multicultural adalah bagaimana kelompok-kelompok etnik yang beragam dapat menentukan sendiri budaya asli yang mereka miliki, serta pada saat yang bersamaan dapat menjadi multicultural

Dengan kata lain orang-orang yang dapat belajar tentang berbagai macam alternative untuk mempersepsi, berprilaku, dan mengevaluasi kelompok lainnya sehingga mereka dapat menyesuaikan kepada makiokultur yang diperlukan untuk kesejahteraan bersama, tanpa melakukan pengurangan penerimaan akan etnisitasnya sendiri yang orisinal.

Fokus perhatian pendidikan multicultural adalah memberikan wawasan budaya kepada anggota masyarakat agar mereka dapat hidup berdampingan secara damai dengan kelompok social lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil rekomendasi APNIEVE UNESCO yang menandaskan bahwa hasil pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan anak didiknya, namun juga dalam hal penanaman dan pengembangan nilai-nilai dan afeksi mereka yakni dalam bentuk belajar bersama, berpartisipasi dan bekerja sama dengan individu/masyarakat dari kelompok budaya yang berlainan dalam segala aktivitas (Muthahir, 1997).

Secara lebih operasional Kazt (dalam Mogdil, 1986) menyatakan ada empat tujuan pendidikan multicultural, yaitu:

  1. memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang mengenalkan secara kritis dan kemampuan evaluasi untuk melawan isu-isu seperti realisme, demokrasi, partisipatory, dan exime.
  2. mengembangkan keterampilan untuk klarifikasi nilai, termasuk kajian untuk mentransmisikan nilai-nilai yang laten dan manifest
  3. untuk menguji dinamika keberagaman budaya dan implikasinya kepada strategi pembelajaran guru
  4. mengkaji vareasi kebahasaan dan keberagaman gaya belajar sebagai dasar bagi pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai

Adapun agar progam pendidikan multicultural berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Yakni memberikan perspektif multicultural maka strategi yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Belajar bagaimana dan dimana menentukan tujuan, informasi yang akurat tentang kelompok-kelompok kultur yang beragam
  2. Identifikasi serta periksalah aspek-aspek positif individu atau kelompok etnik yang berbeda
  3. Belajar toleran untuk keberagaman melalui eksperimentasi di dalam sekolah dan kelas dengan praktek-praktek dan kebiasaan yang berlainan
  4. Dapatkan, jika memungkinkan pengalaman positif dari tangan pertama dengan kelompok-kelompok budaya yang beragam
  5. Kembangkanlah prilaku-prilaku yang empatis melalui bermain peran (role playing) dan simulasi
  6. Praktek penggunan “perpective glasess”, yakni melihat suatu event babakan sejarah, atau isu-isu melalui perspektif kelompok budaya atau lainnya
  7. kembangkan rasa penghargaan diri (self-esteem) seluruh siswa
  8. Identifikasikan dan analisis streotip budaya
  9. Identifikasikan seluruh kasus diskriminasi serta prasangka social yang berasal dari kehidupan siswa sehari-hari (Martorella, 1994:16).

B. Tinjauan Sosial Pendidikan Multikultural

Di Indonesia, pendidikan multicultural relative baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru dilakukan. Pendidikan multicultural yang dikembangkan di Indonesia sejalan dengan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Apabila hal tersebut dilaksanakan dengan tidak baik justru akan menjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional

Menurut Azumardi Azra, pada level nasional, beakhirnya sentralisme kekuasaaan yang pada masa orde baru memaksakan “monokulturalisme” yang cenerung seragam, memunculkan reaksi balik yang bukan tidak mengandung implikasi-implikasi negative bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multicultural. Berbarengan dengan proses otonomisasi dan desentralisasi kekuasaan pemerintahan, terjadi peningkatan gejala “provinsialisme” yang hamper tumpang tindih dengan “etnisitas”. Kecenderungan ini jika kita tidak dikendalikan dapat akan dapat menimbulkan tidak hanya disintegrasi sosio-kultural yang amat parah, tetapi juga disintegrasi polotik

Model pendidikan di Indonesia maupun di Negara-negara lain menunjukkan keragaman tujuan yang menerapkan strategi dan sarana yang dipakai untuk mencapainya. Sejumlah kritikus melihat bahwa revisi kurikulum sekolah yang dilakukan dalam progam pendidikan multicultural di inggris dan beberapa tempat di Australia dan kanada, terbatas pada keragaman budaya yangada, jadi terbatas dimensi kognitif

Penambahan informasi tentang keagamaan budaya merupakan model pendidikan multicultural yang mencakup revisi atau materi pembelajaran, termasuk revisi buku-buku teks. Terlepas dari itu kritik atas penerapan di dalam beberapa tempat, revisi pembelajaran seperti di amerika serikat merupakan strategi yang diangap paling penting dalam reformasi pendidikan dan kurikulum. Penulisan kembali sejarah amerika dari perspektif yang lebih beragam merupakan suatu agenda pendidikan yang diperjuangkan intelektual, aktivis, dan praktisi pendidikan. Dijepang, aktivitas kemanusiaan melakukan advokasi serius untuk merivisi buku sejarah, terutama yang menyangkut peran jepang pada perang dunia II di asia. Walaupun belum diterima, usaha ini sudah mulai membuka mata sebagian masyarakat akan pentingnya perspektif baru tentang perang, agar tragedy kemanusiaan tidak terulang kembali. Sedangkan di Indonesia diperlukan usaha yang terulang kembali. Sedangkan di Indonesia dalam merivisi buku-buku teks agar mengkomodasi konstribusi dan partisipasi yang lebih insklutif bagi warga dari berbagai latar belakang dalam pembentukan Indonesia. Indonesia juga memerlukan pula materi pembelajaran yang bisa mengatasi demdam sejarah diberbagai wilayah.

Model lainnya adalah pendidikan multicultural tidak sekedar merivisi materi pembelajaran tetapi melakukan reformasi dalam system dalam pembelajaran itu sendiri. Affirmative action dalam seleksi siswa sampai rekrumen pengajar di amerika adalah salah satu strategi untuk membuat perbaikan ketimpangan structural terhadap kelompok minoritas. Contoh lain adalah model sekolah pembaharuan, iskandar muda di medan yang menfasilitasi interaksi siswa dari berbagai latar belakang budaya dan menyusun progam anak asuh lintas kelompok. Di amerika serikat bersamaan dengan asumsi masuknya wacana multikulturalisme , dilakukan berbagai lokakarya di sekolah-sekolah maupun di masyarakat luas untuk meningkatkan kepekaan sosilal, toleransi, dan mengurangi prasangka antar kelompok.(Dewey John, 2000).

Untuk mewujudkan model-model tersebut, pendidikan multicultural di Indonesia perlu memekai kombinasi model yang ada, seperti yang diajukan Gorski, pendidikan multikulturala dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yaitu:

  1. Transformasi diri
  2. Transformasi sekolah dan proses belajar mengajar
  3. Transformasi masyarakat. (Paul Gorski, 1989: 23)

Mekonstruksi pendidikan multicultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan antar kelompok mengandung tantangan yang tidak ringan. Pendidikan multicultural tidak berarti sebatas merayakan keragaman belaka. Apalagi jika tatanan masyarakat yang ada masih penuh diskriminasi dan bersifat rasis. Dapat pula dipertanyakan apakah mungkin meminta siswa yang dalam kehidupan sehari-hari mengalami diskriminasi atau penindasan karena warna kulitnya atau perbedaan dari budaya yang dominant tersebut? Dalam kondisi demikian pendidikan multicultural lebih tepat diarahkan sebagai alokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran bebas dari toleransi

Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multicultural, yaitu:

  1. Tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (scooling) atau pendidikan multicultural dengan progam-progam sekolah formal. Pandangan secara luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan yang membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer mengembangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena progam-progam sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah
  2. Menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan-kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. Secara tradisional para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompoksosial yang relative self sufficient, ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama laindalam satu atau lebih kegiatan.
  1. Dalam pengembangan kompetensi dalam suatu kebudayaan biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multicultural. Mempertahankan dan memperluas solidaritas kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multicultural tidak dapat disamakan secara logis.

 

  1. Pendidikan multicultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan . kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.
  2. Kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningktkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran ini dapat menjauhkan kita pada konsep dwi budaya atau dikhotomi antara pribumi dan non pribumi. Dikhotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multicultural perpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada pada diri peserta didik (Depag RI, 2003)

Dalam relitas keindonesiaan dan kebhinikaan, kelima pendekatan tersebut haruslah diselaraskan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah kumpulan manusia atau individu-individu yang terjewantahkan dalam kelompok social dengan suatu tantangan budaya atau tradisi tertentu. Pendapat ini juga dikemukakan oleh zakiyah drajat yang menyatakan, bahwa masyarakat sederhana diartikan sebagai kumpulan individudan kelompok yang diikat oleh kesatuan Negara, kebudayaanm dan agama. ( Ika, 2003: 15).

Jadi dapat dipahami bahwa masyarakat adalah kumpulan besar individu yang hidup dan bekerja sama dalam masa relative lama, sehingga individu-individu dapat memenuhi kebutuhan mereka dan menyerap watak social. Kondisi itu selanjutnya membuat sebagian mereka menjadi komunitas terorganisir yang berpkir tentang dirinya dan membedakan eksistensinya dari eksistensi komunitas. Dari sisi lain, apabila kehidupan di dalam masyarakat berati interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Maka yang menjadikan pembentukan individu tersebut adalah pendidikan atau istilah lain masyarakat pendidik.

Oleh karenaya dalam melakukan kajian dasar kependidikan terhadap masyarakat, secara garis besar dasar-dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Masyarakat tiodak ada dengan sendirinya. Masyarakat adalah eksistensi yang hidup dinamis, selalu berkembang
  2. Masyarakat bergantung pada upaya setiap individu untuk memenuhi kebutuhan melalui hubungan dengan individu lain yang berupaya memenuhi kebutuhan
  3. Individu-individu di dalam berinteraksi dan berupaya bersama guna memenuhi kebutuhan, melakukan penataan terhadap upaya tersebut dengan jalan yang disebut tantangan social.
  4. Setiap masyarakat bertanggung jawab atas pembentukan pola tingkah laku antara individu dan komunitas yang memebentuk masyarakat
  5. Pertumbuhan individu di dalam komunitas, keterkaitan dengannya, dan perkembangannya di dalam bingkai yang menuntut agar bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya. (Amir Muhammad, 1992: 62)

Jika diskripsi di atas dapat kita tarik dalam dunia pendidikan, maka masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Sebab keberadaan masyarakat merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternative untuk memperkaya proses pelaksanaan pendidikan. Untuk itu setiap anggota masyarakat memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan. Hal ini disebabkan hubungan timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan satu hal penting untuk kemajuan pendidikan.

Keanekaragaman (multikulturalisme) adalah wacana baru masyarakat dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pengganti wacana monokultural yang bersifat rasis dan elitis (Van Dijk, 1999). Sejalan dengan pendapat tersebut Gidden (2000) menyatakan multikulturalisme adalah gejala baru yang menandai era globalisasi. Dengan kata lain multikulturalisme tidak dapat dipisahkan dari globalisasi. Ditambahkannya multikulturalisme memiliki kelebihan dibandingkan dengan monokultural terutama dalam hal kesetaraan dan keadilan. Pendapat diatas sependapat dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Hanurawan dan Waterwort (1997)serta suyanto Dkk (2000) yang mnunjukkan bahwa pengelolaan kehidupan social dalam masyarakat yang bercorak multicultural menuntut adanya pengakuan akan kesamaan hak dan kedudukan dari setiap kedudukan dari setiap komponen social

Sementara Duffi (1986) menyatakan bahwa masyarakat yang ercorak multikulturalisme memiliki tiga cirri utama yang selalu melejkkat di dalamnya yakni:

  1. keanekaragaman (divercity)
  2. persamaan (equality)
  3. interaksi melalui pembagian tugas (interaction through sharing)

Mc. Len menandaskan bahwa sebuah masyarakat yang bercorak multicultural setidaknya memiliki sejumlah elemen pokok yaitu:

  1. munculnya keberagamaan
  2. setidaknya terdapat interaksi dan sharing antar anggota komunitas
  3. kesamaan akses kepada sumber daya ekonomi dan pendidikan bagi semua kelompok budaya
  4. terjaminnya hak-hak sipil politik masyarakat
  5. nilai-nilai kebudayaan yang beragam
  6. adanya komitmen bersama terhadap suatu bangsa (shared commitment to one nation)

Untuk memepertahankan kehidupan bangsa yang bercorak multicultural jelas dibutuhkan adanya prinsip toleransi dan saling menghormati antar komponen kenbangsaan (Hanurawan, 1997) serta mau menerima perbedaan sebagai relitas (kesadaran multicultural). Curtis (1992) menyatakan bahwa kesadaran multicultural adalah kesadaran seorang bahwa ia hidup dalam masyarakat yang anggotanya amat berahgam baik dari etnis, agama, budaya, pekerjaan, social ekonnomi dan lain sebagainya.

Tujuan keadilan social yang berakar pada demokrasi merupakan suatu keharuasan dalam masyarakat yang bersifat multicultural. Berakar pada prinsip demokrasi maka kesadaran multikultur perlu di asosiasikan pada setiap individu dalam komunitas social

Untuk mensosialisasikan kesadaran multicultural kepada seluruh komponen social maka perlu adanya pendidikam multicultural (multiculture education). Melalui pendidikan multicultural ini diharapkan mampu dan memperoleh pengetahuan yang akan menimbulkan kesadaran dan akhirnya menerapkan kesadaran multikulturalisme ini dalam kehidupan sosialnya. Dalam bahasa Louis Gates Jr (1992) dinyatakan: “There is no tolerance without respect-and without knowladge”.

Beberapa negara lain, “multikulturalisme’ merupakan terapi etnosentrisme, di Indonesia multikulturalisme bisa menjadi penyeimbang kesatuan (Budianta, 1996). Pada saat sekarang ini bangsa Indonesia sedang memulai penyeimbangan kesatuan dan reformasi tentang keragaman etnis, agama, dan rasial dianggap sebagai kekayaan nasional.

Dalam perspektif ini, pendidikan multicultural dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan diatas semua warga masyarakat. Disamping efektif untuk memberikan perspektif multicultural pada masyarakat, pendidikan multicultural dapat pula diguanakan media untuk mengurangi prasangka kelompok satu kepada kelompok lainnya (Hanurawan, 1997) Lynch (1987) menggaris bawahi bahwa terdapat keterkaitan antara timbulnya prasangka (prejudice) dengan lingkungan social seseorang.

Keterkaitan ini sangat relevan seka;I dengan fakta bahwa beberapa munculnya prasangka kelompok pada diri anak-anak diperoleh dari lingkiungan social mereka. Dalam kaitan dengan pengembangan toleransi dan penghargaan pada setiap anggota komunitas dan sekaligus untuk mmengeliminir prasangka kelompok (etnis, ras, serta agama) secara negative kepada kelompok lainnya dalam masyarakat, maka pendidikan multicultural sangat diperlukan.

Adapun manfaat pengembngan pendidikan multicultural adalah sebagai berikut:

1. Mengembangkan model pendidikan cultural untuk kelas bawah (grass roots) dengan harapan melalui pendidikan multicultural akan membentuk masyarakat yang mempunyai sikap inklusif

2. Mengembangkan berbagai media bagi pendidikan multicultural seperti buku panduan, buku bacaan, VCD, dan lain sebagainya

3. Mengembangkan budaya ani kekerasan pada masyarakat, yang dimulai dengan memberikan pendidikan multicultural untuk dapat mengeliminasi konflik

4. Membangun strategi dalam membina toleransi antar etnik dan umat beragama pada masyarakat yang pluralistic, yang dimulai dari penanaman afeksi terhadap peserta didik

Adapun model pendidikan multikulturalisme yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

  1. Berorientasi pada proses dengan urutan pemahaman-pemahaman transformasi internalisasi
  2. Mengedepankan penalaran dengan menerapkan strategi induktif dan deduktif
  3. Mengutakmakan pendekatan emansipatory
  4. Memfungsikan semua system indera
  5. Mengutamakan pendekatan multimedia
  6. Tidak terkait perbedaan kelompok.

http://alumnigontor.blogspot.com/2008/04/konsep-pendidikan-multikultural.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendidikan Berbasis Multikultural

 

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

A. KARAKTERISTIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Pendidikan multikultural mengandung arti bahwa proses pendidikan yang diimplementasikan pada kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan selalu mengutamakan unsur perbedaan sebagai hal yang biasa, sebagai implikasinya pendidikan multikultural membawa peserta didik untuk terbiasa dan tidak mempermasalahkan adanya perbedaan secara prinsip untuk bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang budaya, suku bangsa, agama, ras, maupun adat istiadat yang ada.

James A. Banks mengidentifikasi ada lima dimensi pendidikan multikultural yang diperkirakan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu[9]:

  1. Dimensi integrasi isi/materi (content integration). Dimensi ini digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan ‘poin kunci’ pembelajaran dengan merefleksi materi yang berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.
  2. Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction). Suatu dimensi dimana para guru membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang ada pada diri mereka sendiri;
  3. Dimensi pengurangan prasangka (prejudice ruduction). Guru melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Penelitian menunjukkan bahwa para pelajar yang datang ke sekolah dengan banyak stereotipe, cenderung berperilaku negatif dan banyak melakukan kesalahpahaman terhadap kelompok etnik dan ras dari luar kelompoknya. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teksbook multikultural atau bahan pengajaran lain dan strategi pembelajaran yang kooperatif dapat membantu para pelajar untuk mengembangkan perilaku dan persepsi terhadap ras yang lebih positif. Jenis strategi dan bahan dapat menghasilkan pilihan para pelajar untuk lebih bersahabat dengan ras luar, etnik dan kelompok budaya lain.
  4. Dimensi pendidikan yang sama/adil (equitable pedagogy). Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok. Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain dengan bentuk kerjasama (cooperatve learning), dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan persamaan memperoleh kesempatan belajar.
  5. Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure). Dimensi ini penting dalam memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah) yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim sosial, latihan-latihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staff dalam merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.

B. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

Pendidikan berbasis multikultural didasarkan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia. Hakekat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan multikultural bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran inklusif dan pengajaran oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual.

Di Indonesia pendidikan multikultural secara tersirat telah diamanahkan pada implementasi perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”, lebih lanjut dinyatakan bahwa “pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat[10].

Pendidikan multikultural sangat relevan dilaksanakan dalam mendukung proses demokratisasi, dimana pada pendidikan multikultural terdapat beberapa hal terkait mengenai; pengakuan hak asasi manusia, tidak adanya diskriminasi dan diupayakannya keadilan sosial. Selain itu, dengan pendidikan multikultural ini dimungkinkan seseorang dapat hidup dengan tenang di lingkungan kebudayaan yang berbeda dengan yang dimilikinya. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk dan bahkan paling majemuk di dunia, karena itu agar kemajemukan ini tidak berkembang menjadi ancaman disintegrasi harus diupayakan untuk dikelola. Lantas apa yang perlu dilakukan, Pendidikan merupakan salah satu jawaban utamanya. Proses pembelajaran tentang manusia Indonesia harus merupakan mata pelajaran wajib di seluruh tingkatan jenjang pendidikan, terutama pada satuan pendidikan dasar sebagai titik awal proses pendidikan setiap individu sebagai peserta didik dimulai. Guru, kurikulum, sarana-prasarana, dan berbagai hal yang diperlukan untuk suatu proses pembelajaran yang mendukung multikulturalisme harus disediakan oleh negara. Negara merupakan otoritas tertinggi dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk membentuk manusia Indonesia yang bercirikan ke-Indonesiaan diperlukan adanya penyeragaman dalam beberapa mata pelajaran yang bersifat umum seperti Bahasa Indonesia, Sosia-Budaya Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Mata pelajaran ini adalah mata pelajaran yang mutlak harus diberikan untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Selain tentunya mata pelajaran olah raga dan kesenian. Selama ini proses pembelajaran lebih cenderung mengupayakan penyeragaman, dan kurang memperhatikan keanekaragaman masyarakat bangsa Indonesia.

C. PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DIMULAI SEJAK TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

Jika kita belajar dalam keadaan yang terlalu nyaman, kita akan berhenti, siswa tidak akan merasa tertekan dan dituntut jika mereka berada dalam keadaan nyaman[11]. Hal yang perlu disikapi di sini dari kenyamanan itu adalah adanya unsur persamaan secara holistik, tentunya ini bertolak belakang dengan keadaan masyarakat Indonesia yang beranekaragam dalam banyak hal dan hidup dalam satu lingkup tertentu tanpa adanya suatu pemisah yang mengkotak-kotakkan satu sama lainnya.

Upaya membangun Indonesia yang multikultural hanya mungkin dapat terwujud apabila; (1) konsep multikulturalisme menyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia, serta adanya keinginan bangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadi pedoman hidupnya; (2) kesamaan pemahaman diantara para ahli mengenai multikulturalisme dan bangunan konsep-konsep yang mendukungnya dan (3) upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini[12]. Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural.

Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak. Dalam konteks Indonesia, yang dikenal dengan muatan yang sarat kemajemukan, maka pendidikan multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mempelajari sebuah kebudayaan. Hanya ada sedikit orang yang mengembangkan model kebudayaan yang tidak sesuai dengan wujud kebudayaan yang telah dimiliki sebelumnya dan lingkungan baru mereka[13]. Oleh karenanya, pentingnya pembelajaran dengan memasukan unsur kebudayaan tertentu seperti keanekaragaman yang ada di Indonesia tentunya memerlukan suatu kemampuan khusus agar supaya pesan dan maksud yang hendak disampaikan nantinya dapat diterima dan dikembangkan oleh individu sebagai peserta didik di satuan pendidikan yang ada di Indonesia.

 

 

D. IMPLIKASI PADA PROSES PEMBELAJARAN PADA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

Mempelajari lingkungan, memandangnya dari perspektif kultural, merupakan keberagaman dalam tema kebudayaan dasar kita[14]. Pendidikan multikultural dimulai dari pengenalan, penghormatan, dan penghargaan terhadap diri sendiri (termasuk institusi yang membentuk seperti keluarga maupun lingkungan terdekat). Sesuai tahap perkembangan anak dan jenjang pendidikan, pengenalan dan penghormatan atas diri sendiri diperluas dan dikembangkan menjadi pengenalan dan penghargaan terhadap orang lain[15]. Sebagai contoh, pengetahuan tentang berbagai suku, etnis, adat, tradisi, agama, bahasa daerah di satu daerah, di Indonesia, dan di dunia. Keterampilan untuk hidup di masyarakat yang berbasis multikultural termasuk terampil bernegosiasi, mengemukakan dan menghadapi perbedaan, resolusi konflik, cooperative learning, dan problem solving. Keterampilan ini bisa dimasukkan pada proses pembelajaran peserta didik baik melalui kegiatan akademik maupun non-akademik.

Sebagaimana telah diungkapkan secara jelas pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional implikasi pada proses pembelajaran seiring diputuskannya sistem Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, maka guru sebagai pendidik mempunyai peranan penting dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis multikultural dan pembiasaan hidup harmonis dalam berbagai perbedaan, otoritas guru untuk mengelola dan mengembangkan model pembelajaran yang efektif dengan meng-include hakikat multikultural melalui materi pembelajaran seperti “keanekaragaman budaya bangsa di Indonesia” perlu disikapi secara bijaksana sehingga dengan munculnya perbedaan suku bangsa, agama, ras, maupun budaya tidak menjadikan anak untuk bersikap dan berpikiran secara primordialis.

Manakala proses pembelajaran yang berbasis multikultural dapat dilaksanakan dan diimplementasikan pada kehidupan dan suasana belajar peserta didik, maka perpecahan horizontal dapat diminimalisir tentunya dengan memahami benar hakikat perbedaan sebagai sebuah karunia dan kekayaan bukan perbedaan sebagai hal yang menjadi pemisahan. Peserta didik pastinya dapat mengerti hal ini, bila proses kehidupan yang dijalaninya tidak keluar dari konteks dan hakikat pendidikan berbasis multikultural.

A. KESIMPULAN

Pendidikan berbasis multikultural mengindikasikan adanya gejala yang ada pada lapisan masyarakat secara horizontal yang heterogen baik dari segi budaya, agama, maupun status sosial yang ada. Pendidikan multikultural memerlukan adanya suatu dorongan yang mengarah pada satu asumsi bahwa dengan adanya perbedaan itu tidak perlu adanya suatu pengelompokan ataupun penggolongan terhadap warga masyarakat tertentu dan saling membatasi diri diantara anggota masyarakat yang berbeda tersebut.

Di Indonesia sebagaimana diketahui bersama, bahwa Indonesia dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika” setidaknya bukan hanya sebatas slogan belaka, namun masih dapat dipertahankan sampai saat ini, di mana warga keturunan suku bugis dapat hidup berdampingan dengan warga keturunan suku batak, warga keturunan suku dayak dapat saling tolong-menolong dan hidup harmonis bersama warga keturunan suku madura, dan masih banyak contoh lainnya.

Pendidikan multikultural dirasakan penting untuk menjaga integritas bangsa Indonesia dari perpecahan horizontal sebagaimana terjadi tidak hanya sekali sepanjang Indonesia merdeka. Pemahaman akan pentingnya perbedaan sebagai sebuah anugrah merupakan titik tolak pendidikan berbasis multikultural.

Guru sebagai pendidik di satuan pendidikan memiliki peran strategis untuk mengembangkan dan merencanakan suatu proses pembelajaran yang berafiliasi pada pendidikan berbasis multikultural dengan meng-include materi pembelajaran yang relevan dengan unsur-unsur terkait dengan pendidikan multikultural.

 SARAN-SARAN

Bukan hal yang tidak mungkin, anugrah luar biasa yang diberikan kepada bangsa Indonesia akan hilang dan tinggal kenangan manakala tiap-tiap warga negara Indonesia sudah tidak lagi menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan perbedaan unsur budaya dalam kehidupan yang kompleks. Munculnya perpecahan horizontal yang terjadi di tanah air tidak sedikit yang dilatarbelakangi oleh unsur SARA dan memang sampai saat ini solusi terbaiknyapun masih belumterlihat secara nyata. Setidaknya dengan meminimalisir dan mencegah konflik horizontal yang didasari oleh SARA itu dapat dilakukan salah satunya melalui pendidikan yang dalam hal ini satuan pendidikan merupakan sentral dari proses pendidikan yang berhaluan pada proses pembelajaran terhadap para peserta didiknya.

Memahami dan mengimplementasikan suatu kehidupan yang harmonis di tengah heterogenitas unsur masyarakat di lingkungan kita tentunya dapat meminimalisir konflik yang telah banyak terjadi di Indonesia beberapa tahun silam.

Pendidikan bukan yang utama, akan tetapi dengan memanfaatkan sektor pendidikan sebagai sarana untuk menanamkan konsep pendidikan berbasis multikultural dirasakan dapat meminimalisir dan menghilangkan pemikiran maupun tindakan arogan karena perbedaan yang berhaluan SARA.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi ketiga, cetakan ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005

Darmaningtyas, et. al. Membongkar Ideologi Pendidikan – jelajah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Resolusi Press. 2004

Joyce, Bruce, et. al. Model of Teaching – edisi kedelapan, diterjemahkan oleh Achmad Fawaizd, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009

Amandemen Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

http://www.education-indonesia.net/home/index.php?option=com_content&view=article&id=215:pendidikan-berbasis-multikultural&catid=74:artikel-bebas&Itemid=255

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s